Kisah seorang raja yang memasrahkan anaknya pada sekelompok pakar. Para pakar kemudian mengajarkan anak tersebut ilmu perbintangan, geometri, dan lain-lain walau ia sangat bodoh dan bebal. Pada suatu hari, sang raja menggenggam sebuah cincin kemudian menyuruh anaknya itu untuk menebak.
"Kemarilah," kata raja, "Tebak, apa yang ada dalam genggamanku?"
"Benda dalam genggamanmu berbentuk lingkaran," kata si anak. "Kuning dan bolong bagian tengahnya."
"Engkau menyebutkan ciri-ciri dengan benar. katakanlah, benda apa ini?"
"Pasti saringan!"
"Kau menyebutkan ciri-ciri benda ini dengan sangat baik, membuat orang kagum. Dengan kemampuanmu dari hasil pendidikanmu itu, bagaimana mungkin bisa kaukatakan benda ini adalah saringan, padahal saringan tidak mungkin masuk dalam genggaman?!"
Mirip dengan yang terjadi pada ulama zaman ini. Mereka memasuki hal-hal detail dalam ilmu pengetahuan. Mereka sangat paham hal-hal yang tak ada kaitannya dengan mereka. Mereka benar-benar menguasainya secara sempurna.
Sementara ada sesuatu yang sangat penting dan lebih dekat kepada manusia daripada apapun -yaitu jiwa manusia- tapi orang tidak tahu, seorang alim sekalipun. Ia tidak mengenal jiwanya. Ia mampu memutuskan hukum segala seuatu. Ia berkata, "ini boleh dan itu tidak boleh; ini halal dan itu haram." Ia tidak mengenal keadaan jiwanya: apakah halal atau haram; boleh atau tidak boleh; suci atau tidak suci.
Berlubang kuning, berukir, dan lingkaran hanyalah sifat. Ia buatan, bukan bawaan. Jika sesuatu dimasukkan kedalam api maka sifat-sifat tersebut akan sirna. Sesuatu tersebut menjadi murni dari sifat-sifat. Begitu juga dengan segala tanda yang disematkan pada ilmu, perbuatan, dan ucapan. Semua tanda itu tidak berhubungan dengan inti sesuatu- yang akan tetap ada ketika semua tanda itu binasa.
Begitulah tanda-tanda atau sifat-sifat segala sesuatu. mereka banyak berbicara tentang segala sesuatu itu, mereka menjelaskannya, dan akhirnya menyatakan bahwa benda yang dalam genggaman sang raja adalah sebuah saringan-ketika mereka tidak tahu apa yang inti dan sejati.
Aku adalah burung, Aku seekor bulbul, Aku adalah gagak. Jika diminta mengeluarkan suara lain yang bukan suaraku, aku tidak akan mampu. Jika mulutku seperti ini, aku tidak akan mampu mengeluarkan suara lain. Berbeda dengan orang yang belajar meniru suara burung; dia bukan burung. Bahkan dia musuh bagi burung. Dia pemburu burung. Dia bersiul agar burung-burung mengira dia teman mereka. Jika dia diperintahkan mengeluarkan suara lain, dia pasti bisa. Sebab, suaranya adalah pinjaman, bukan miliknya. Dia mampu mengeluarkan suara lain karena dia telah belajar mencuri suara-suara itu dan belajar cara mengeluarkan suara-suara berbeda hasil curian.
`~Assyekh Maulana Jalaluddin Rumi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar